Senin, 09 Januari 2012

CONTOH KHUTBAH IDUL ADHA

WEBSITE RESMI KAMI : KANAHAYA.COM ;

Selamat datang di website kami, untuk Grosir – Agen –

Distributor – Reseller

Harga OnLine Termurah !!







DISKON KHUSUS

untuk mitra yang aktif order setiap bulan

SPANDUK, BROSUR

+FREE ONGKIR

Bagi temen-temen yang ingin mencari contoh khutbah idul adha ne saya punya contohnya, khutbah ini langsung dari ustad suharto mudir pondok pesantren gontor tiga kediri. semoga contoh khutbah idul adha ini bisa bermanfaat.
(CONTOH KHUTBAH IDUL ADHA)
ISLAM PEMERSATU DAN PEMBANGUN PERADABAN

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Hari ini adalah hari Iedul Adha, hari raya Qurban, hari haji akbarhari mu’tamar ummat Islam sedunia di Makah, Arofah, Mina dan Muzdalifah.

Umat Islam mempunyai dua hari raya, Iedul Fithri dan Iedul Adha, tidak ada hari raya lagi selain keduanya. Masing-masing dikaitkan dengan ibadah besar. Iedul Fithri datang setelah ibadah puasa Ramadhan, dan Iedul Adha tiba setelah ibadah haji. Seolah-olah kedua hari raya tersebut merupakan karunia, hadiah dan penghargaan Allah kepada hamaba-hamba-Nya setelah berhasil menunaikan perjuangan ibadah besar.
Islam mengajarkan kepada umatnya akhlaq, adab dan tata cara dalam menyambut kedatangan hari raya. Tidak dengan pesta, hura-hura dan foya-foya layaknya umat lain, tidak dengan hiburan-hiburan di tempat-tempat rekreasi yang sarat dengan kema’shiatan, tidak pula dengan mengumbar hawa nafsu rendahan.
Islam mengajarkan kepada kita untuk menyambut Ied dengan Takbir, dengan sholat, dengan membayar zakat, dengan menyembelih binatang qurban, dengan menyantuni fakir miskin, saling memaafkan dan menguatkan ikatan kasih sayang terhadap kerabat, tetangga dan handai tolan.

Hari raya kita penuh dengan nilai-nilai ketuhanan ( robbaniah ) karena diisi dengan berbagai ibadah dan kekhusyu’an, juga sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan ( insaniah ) karena diikuti dengan aktifitas solidaritas social.
Rasulullah SAW memerintahkan kita agar menghiasi hari raya  dengan takbir 
( zayyinu iedakum bittakbir ). 

Hari raya adalah hari bertakbir, mengagungkan asma Allah. Takbir bukan hanya ucapan di bibir yang kosong dari makna. Takbir mengandung filsafat kehidupan yang luhur. Takbir berarti membesarkan Allah, menomorsatukan ketaatan kepada-Nya, memperjuangkan prinsip-prinsip kebenaran yang datang darip-Nya. Takbir dapat membangun jiwa besar kita, mengokohkan ketabahan dan kesabaran, serta meneguhkan istiqomah kita di jalan-Nya.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar, selain Allah adalah kecil semata. Ketika kita diuji dengan kekurangan, penyakit, kesuilitan dll. Tidak akan putus asa atau hilang  harapan. Allahu Akbar, Allah Maha Besar,  masalah-masalah ini hanyalah perkara kecil yang akan segera berlalu.
Ketika kita sibuk dengan urusan dunia, pekerjaan, bisnis, birokrasi. Tiba-tiba terdengan seruan adzan Allahu akbar-Allahu Akbar, kita segera sholat, meninggalkan segala urusan, karena tidak ada yang lebih penting dan lebih besar dari seruan Allah.
Ketika saatnya membayar zakat, menunaikan ibadah haji, membeli binatang qurban, beinfaq dan shadaqoh untuk kemashlahatan umat, Allahu Akbar, ringan saja bagi kita membelanjakan harta, bila Allah yang meminta.

Ketika ditawarkan kepada kita harta, popularitas dan kedudukan dengan syarat menjual prinsip-prinsip kebenaran, menggadaikan aqidah, maka kita dengan tegas menolak seraya mengatakan Allahu akbar, harta tidak akan mampu membeli kebenaran.
Karena itu mari kita jadikan takbir sebagai syiar kita sehari-hari, agar meresap di sanubari. Bahkan untuk memulai hidup pun, ketika bayi baru lahir, Nabi SAW mengajarkan kita untuk menyerukan takbir – adzan dan iqomah di telinga sang bayi. Hidup, kita mulai dengan takbir. Dengan takbir pula generasi salaf shaleh ( yang terdahulu ) telah mampu menorehkan prestasi monumental. Perang Badar dimenangkan dnegan takbir, Mesir dan Afrika, Kekaisaran Rumawi dan imperium Persia ditundukkan dengan takbir, para pejuang kemerdekaan membangkitkan semangat menentang penjajahan dengan takbir, Bung Tomo membakar semangat perlawanan arek-arek Surabaya untuk mengusir pasukan sekutu juga dengan takbir.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Diantara hikmah disyariatkannya ibadah haji dan qurban adalah untuk meneladani perjuangan, pengorbanan dan ketaatan nabi Irahim AS beserta para keluarganya, meneladani perjuangan dan pengorbanan nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para shahabatnya. 

Maka dengan hidayah yang mereka miliki ikutilah ( fabihudahum iqtadih ). 
Pada saat dan kondisi seperti ini,  kita sebagai bangsa Indonesia sangat membutuhkan keteladanan dari para tokoh dan pemimpin, dalam  memaknai hidup, bekerja keras, menghargai waktu, melestarikan aset negara dan kekayaan alam, hidup sederhana, perilaku yang bersih dan efektif agar bisa keluar dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Keteladanan jauh lebih berharga dari sekedar anjuran. Keteladanan sekali dari pemimpin akan lebih manjur dari ucapan seribu kali.
Keteladanan yang diberikan oleh nabi Ibrohim, Siti Hajar- istrinya, Ismail- putranya, dalam pengorbanan, kesabaran dan ketaatan sangat luar biasa, demikian pula keteladanan nabi Muhammad SAW dalam hal yang sama, sehingga nama beliau berdua diabadikan dalam bacaan tsyahhud dalam bentuk do’a shalawat dan keberkahan.

Nabi Ibrahim berqurban dengan dirinya, dimusuhi kaumnya karena menyerukan kebenaran tauhid, dilempar ke dalam api unggun besar oleh Namrudz, berpisah dengan istrinya Siti Hajar dan bayinya Ismail yang ditinggal di Makkah, sementara beliau kembali ke Hebron Falestina dengan siti Saroh. Berqurban untuk menyembelih putranya, Ismail berqurban dengan jiwanya. Pengorbanan demi pengorbanan dipersembahkan, ujian-demi ujian dilewati dan berhasil, sehingga beliau diangkat oleh Allah untuk menjadi pemimpin.

Dan ingatlah ketika Ibrohim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, maka ia menyempurnakannya ( melaksanakan ). Allah berfirman : Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai pemimpin bagi umat manusia.

Beliau menjadi pemimpin yang telah teruji, pemimpin yang memberikan keteladanan  dalam berqurban, mempersembahkan  jiwanyanya untuk Allah, mengisi hidupnya untuk memperjuangkan kemakmuran dan keadilan dalam naungan ridha Allah. Pemimpin yang demikianlah yang dirindukan bangsa ini, yang mudah-mudahan nanti akan dapat dilahirkan oleh pesta demokrasi 2004 ini.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Untuk meneladani pengorbanan nabi Ibrahim inilah maka ibadah qurban disyariatkan, hukumnya sunnah muakkadah bagi yang mempunyai kelapangan rizqi. Seekor kambing mencukupi untuk satu orang dan seekor sapi mencukupi untuk tuju orang.

Nabi Ibrahim telah berqurban dengan dirinya, keluarganya bahkan putranya. Nabi Ismail berqurban dengan nyawanya yang paling berharga. Nabi Muhammad beserta para shahabat berqurban dengan jiwa raga dan harta benda, dimusuhi, disiksa, diembargo ekonominya, diusir hingga berhijrah, diperangi terus menerus dan mereka tabah, sabar, berjuang dan berqurban hingga kita bisa menikmati manisnya hasil perjuangan dan pengorbanan mereka. Sementara saat ini kita hanya diminta untuk berqurban dengan seekor kambing, sebagian kecil dari harta kita, berqurban dengan nyawa seekor binatang, belum dengan nyawa kita, masihkah kita enggan melaksanakannya ?
Semangat berqurban inilah yang harus kita tumbuh suburkan dalam diri kita dan masyarakat. Semangat untuk memberi dan bukan menerima apalagi mengambil, inilah yang mesti kita budayakan. Semangat tangan diatas dan bukan tangan dibawah inilah yang harus kita terapkan. Semangat seperti inilah yang menjadi sifat utama orang-orang yang bertaqwa (alladzina yunfiquuna fissarraa’ waddhorroo’ ) mereka yang berfinfaq baik dalam keadaan lapang ataupun sempit. 
Kalau saat ini diindikasikan masih banyak kebocoran harta Negara, penggundulan dan penjarahan hutan, eksploitasi sumberdaya alam berlebihan sehingga memebahayakan keseimbangan dan kelestarian alam, potensiil mewariskan bencana bagi generasi mendatang, semua itu terjadi karena di tengah-tengah bangsa ini yang lebih dominan adalah semangat mengambil dan memanen, bukan semangat memberi dan menanam. Kita setiap hari menikmati berbagai buah dan hasil perkebunan lainnya, dari kebun dan pepohonan yang ditanam orang-orang terdahulu, pernahkan kita berfikir untuk bisa menanam agar kelak anak cucu kita yang memanen hasilnya ?. Kalau semanagat memberi dan menanam ini kita budayakan, insya Allah kita akan mampu meninggalkan berbagai investasi strategis jangka panjang kepada anak cucu dan bukan hutang yang semakin membebani, kita akan meninggalkan hutan-hutan dan berbagai perkebunan  yang kaya akan sumber alam nabati dan hewani serta menyuburkan, kita akan meninggalkan fasilitas pendidikan dan pelayanan kesejahteraan social yang berkwalitas, insya Allah kita masih mempunyai waktu bila kita bersungguh-sungguh.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita untuk mempunyai kepekaan , empati dan solideritas social. Hendaknya kita yang mempunyai kelapangan rizqi mau berbagai dengan kerabat, tetangga, fakir-miskin anak-anak yatim dan mereka yang dalam kebutuhan. Islam tidak membenarkan kita hidup egoistis, nafsi-nafsi, menutup pintu rapat-rapat dari sesama manusia yang membutuhkan bantuan. Islam menghendaki agar kita hidup bersaudara, saling menyayangi, saling membantu, saling menguatkan, yang kuat mengangkat yang lemah, yang besar membantu yang kecil, yang berkuasa melindudngi yang lemah. Itulah makna persaudaraan yang sebenarnya. Sungguh tidak ada persaudaraan dan kasih sayang kalau di rumah kita segala sesuatu tersedia, sementara tetangga tidak punya apa-apa, tidak ada persaudaraan antara orang yang menganiaya dan yang teraniaya. Tidak ada persaudaraan antara orang yang memegang perutnya kekenyangan dengan tetangganya yang menekan perutnya sambil  merintih kelaparan.

Bukan seorang mukmin yang tidur di malam hari kekenyangan, sementara tetangga disampingnya kelaparan, padahal ia mengetahuinya ( H.R. thobroni dan Bazzar ).

Solidaritas social ini harus kita miliki, untuk bisa membangun bangsa yang utuh dan kokoh. Saat ini ada 37 juta lebih diantara bangsa Indonesia yang dikategorikan miskin akut ( tidak tersedia makanan yang cukup, tempat tinggal yang layak, jaminan kesehatan dan biaya pendidikan ). Tingkat pendidikan kita masih bertengger pada rengking 160 diantara bangsa-bangsa dunia, kwalitas SDM kita ada pada level 110.  Sumber daya alam, kita jual mentahan nyaris tanpa sentuhan tehnologi dengan harga murah, industri setrategis masih dikuasai asing, tenaga-tenaga ahli masih kita impor, peralatan berat sampai senjata yang kita perlukan untuk melindungi kedaulatan negri ini, masih disuplai dari Negara maju, hingga komidi pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari semacam beras, gula, kedelai, gandum terpaksa masih kita import dari Negara lain, padahal Negara kita adalah Negara agraris. Ini semuanya mennjukkan bahwa kita masih harus bekerja keras, bahu membahu, bekerja lebih banyak lagi, membangun SDM yang berkwalitas.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Saat ini tiga juta lebih jama’ah haji yang datang dari berbagai pelosok negri, bermacam-macam bahasanya, berbeda-beda suku bangsanya, adat  istiadatnya, beraneka warna kulitnya, bertingkat-tingkat status sosialnya, semuanya berkumpul, berpadu saling berkenalan, tolong-menolong, saling melayani di Makkah dan Mina, menunaikan ibadah haji, tidak tampak perbedaan antara si kaya dan miskin, yang berpangkat dan rakyat. Mereka pergi meninggalkan sanak famili, kampung halaman yang dicintai, dan pekerjaannya sehari-hari, menempuh perjalanan jauh, penuh dengan resiko, dengan bekal yang banyak, semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah :

Ya Allah kami penuhi panggilan-Mu
Kami penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, Sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kerajaan adalah milik-Mu semata Tiada sekutu bagi-Mu.

Semua ini membuktikan bahwa Islam adalah agama penggerak. Tidak ada kekuatan seperti Islam yang mampu memobilisir dan menggerakkan sedemikian rupa. Islam agama pemersatu, tidak ada ikatan yang lebih kokoh dari aqidah Islam. 1,5 milyard ummat Islam di seluruh belahan bumi dihimpun dalam aqidah tauhid, dan disatukan dalam satu kiblat. Islam sekali-kali bukan penyebab desintegrasi bangsa, karena Islam memberikan kebebasan beragama bagi umat lain dan toleransi yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.

Umat Islam harus menyadari bahwa mereka mempunyai potensi SDM yang besar, SDA yang melimpah, negri-negri yang subur, kekayaan budaya yang beraneka ragam, yang masing-masing mempunyai potensi keunggulan.  Dan yang lebih penting lagi mereka memiliki kebenaran ajaran yang terjaga, serta sumber-sumber doktrin yang masih murni. Umat Islam termasuk  kita disini bila mampu menggali dan memanfaatkan potensi yang kita miliki, tidak mustahil akan mampu mewarnai dan ikut menentukan arah kemajuan peradaban umat manusia. 

Masa depan adalah milik kita umat Islam, Allah telah memilih kita sebagai khoiro ummah ( umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia ), menjajikan kepada kita untuk memagang kepemimpinan dunia, dengan syarat kita mampu benar-benar beriman dan berislam. Kebenaran Islam telah membuka banyak mata hati para cendekiawan Barat untuk memeluk Islam, menaklukkan hati nurani mereka, seperti yang dijanjikan Allah (liyudhhirohu aladdiini kullihi ) untuk dimenangkan atas agama semuanya. Secara konsep Islam telah menang dan unggul, sayangnya kejayaan Islam masih tersimpan dalam lembaran-lembaran kitab suci, belum tampak dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi semakin membuktikan kebenaran Islam, para cendekiawan berbondong-bondong memeluk Islam, sayangnya kita sebagai umat Islam, justru belum mampu memberikan gambaran Islam yang baik, kita malah sering menjadi visual Islam yang jelek. Islam mencintai ilmu pengetahuan, tetapi umatnya masih berkubang dalam kebodohan, Islam mengajarkan keteraturan, tetapi ummatnya paling berantakan, Islam sangat menghargai waktu, tetapi umatnya tidak mempunyai disiplin waktu, Islam menekankah pentingnya kebersihan, tetapi negri-negri muslim masih identik dengan kejorokan dan kekotoran. Islam mewajibkan penegakkan keadilan, tetapi banyak pemimpin negri muslim justru bersikap tiran. Kenyataan social inilah yang menjadi penghalang orang untuk simpati dan memeluk agama Islam. Al-Islamu mahjuubun bil muslimin ( keindahan ajaran Islam tertutup oleh kejelekan keadaan ummat Islam sendiri ).

Karena itu yang kita butuhkan saat ini adalah mendidik diri kita dan keluarga serta masyarakat untuk mengamalkan Islam. Seruan berislam tidak mengandung permusuhan kepada siapapun, karena itu berarti seruan kepada nilai-nilai luhur kemanusiaan yang menjadi misi semua rasul utusan Allah. Seruan berislam tidak membutuhkan cara-cara kekerasan, karena hal itu hanyaa akan membuat orang lari dari Islam ( jika engkau bersikap keras dan kasar niscaya mereka akan lari menjauhimu ). Cara-cara kekerasan hanya menjadi pilihan orang-orang yang berfikiran picik dan emosional, yang tidak melihat alternative lain. Mereka yang menganut logika kekuatan adalah orang-orang yang tidak mampu memanfaatkan kekuatan logika.

Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana mengejawentahkan ajaran Islam dalam sikap hidup kita sehari-hari, agar kita bisa menjadi contoh kebaikan bagi umat manusia ( litakunu syuhada’ alannas ), menjadi al-Qur’an yang hidup dan berjalan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Karena itu, marilah kita senantiasa hidup diatas Islam, hidup dengan Islam dan mati dalam keadaan Islam kepada Allah :

Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan saya termasuk orang yang bersegara dalam berserah diri ( al-An’am : 162 -163 ).

0 komentar:

Poskan Komentar

Senin, 09 Januari 2012

CONTOH KHUTBAH IDUL ADHA

Bagi temen-temen yang ingin mencari contoh khutbah idul adha ne saya punya contohnya, khutbah ini langsung dari ustad suharto mudir pondok pesantren gontor tiga kediri. semoga contoh khutbah idul adha ini bisa bermanfaat.
(CONTOH KHUTBAH IDUL ADHA)
ISLAM PEMERSATU DAN PEMBANGUN PERADABAN

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Hari ini adalah hari Iedul Adha, hari raya Qurban, hari haji akbarhari mu’tamar ummat Islam sedunia di Makah, Arofah, Mina dan Muzdalifah.

Umat Islam mempunyai dua hari raya, Iedul Fithri dan Iedul Adha, tidak ada hari raya lagi selain keduanya. Masing-masing dikaitkan dengan ibadah besar. Iedul Fithri datang setelah ibadah puasa Ramadhan, dan Iedul Adha tiba setelah ibadah haji. Seolah-olah kedua hari raya tersebut merupakan karunia, hadiah dan penghargaan Allah kepada hamaba-hamba-Nya setelah berhasil menunaikan perjuangan ibadah besar.
Islam mengajarkan kepada umatnya akhlaq, adab dan tata cara dalam menyambut kedatangan hari raya. Tidak dengan pesta, hura-hura dan foya-foya layaknya umat lain, tidak dengan hiburan-hiburan di tempat-tempat rekreasi yang sarat dengan kema’shiatan, tidak pula dengan mengumbar hawa nafsu rendahan.
Islam mengajarkan kepada kita untuk menyambut Ied dengan Takbir, dengan sholat, dengan membayar zakat, dengan menyembelih binatang qurban, dengan menyantuni fakir miskin, saling memaafkan dan menguatkan ikatan kasih sayang terhadap kerabat, tetangga dan handai tolan.

Hari raya kita penuh dengan nilai-nilai ketuhanan ( robbaniah ) karena diisi dengan berbagai ibadah dan kekhusyu’an, juga sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan ( insaniah ) karena diikuti dengan aktifitas solidaritas social.
Rasulullah SAW memerintahkan kita agar menghiasi hari raya  dengan takbir 
( zayyinu iedakum bittakbir ). 

Hari raya adalah hari bertakbir, mengagungkan asma Allah. Takbir bukan hanya ucapan di bibir yang kosong dari makna. Takbir mengandung filsafat kehidupan yang luhur. Takbir berarti membesarkan Allah, menomorsatukan ketaatan kepada-Nya, memperjuangkan prinsip-prinsip kebenaran yang datang darip-Nya. Takbir dapat membangun jiwa besar kita, mengokohkan ketabahan dan kesabaran, serta meneguhkan istiqomah kita di jalan-Nya.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar, selain Allah adalah kecil semata. Ketika kita diuji dengan kekurangan, penyakit, kesuilitan dll. Tidak akan putus asa atau hilang  harapan. Allahu Akbar, Allah Maha Besar,  masalah-masalah ini hanyalah perkara kecil yang akan segera berlalu.
Ketika kita sibuk dengan urusan dunia, pekerjaan, bisnis, birokrasi. Tiba-tiba terdengan seruan adzan Allahu akbar-Allahu Akbar, kita segera sholat, meninggalkan segala urusan, karena tidak ada yang lebih penting dan lebih besar dari seruan Allah.
Ketika saatnya membayar zakat, menunaikan ibadah haji, membeli binatang qurban, beinfaq dan shadaqoh untuk kemashlahatan umat, Allahu Akbar, ringan saja bagi kita membelanjakan harta, bila Allah yang meminta.

Ketika ditawarkan kepada kita harta, popularitas dan kedudukan dengan syarat menjual prinsip-prinsip kebenaran, menggadaikan aqidah, maka kita dengan tegas menolak seraya mengatakan Allahu akbar, harta tidak akan mampu membeli kebenaran.
Karena itu mari kita jadikan takbir sebagai syiar kita sehari-hari, agar meresap di sanubari. Bahkan untuk memulai hidup pun, ketika bayi baru lahir, Nabi SAW mengajarkan kita untuk menyerukan takbir – adzan dan iqomah di telinga sang bayi. Hidup, kita mulai dengan takbir. Dengan takbir pula generasi salaf shaleh ( yang terdahulu ) telah mampu menorehkan prestasi monumental. Perang Badar dimenangkan dnegan takbir, Mesir dan Afrika, Kekaisaran Rumawi dan imperium Persia ditundukkan dengan takbir, para pejuang kemerdekaan membangkitkan semangat menentang penjajahan dengan takbir, Bung Tomo membakar semangat perlawanan arek-arek Surabaya untuk mengusir pasukan sekutu juga dengan takbir.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Diantara hikmah disyariatkannya ibadah haji dan qurban adalah untuk meneladani perjuangan, pengorbanan dan ketaatan nabi Irahim AS beserta para keluarganya, meneladani perjuangan dan pengorbanan nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para shahabatnya. 

Maka dengan hidayah yang mereka miliki ikutilah ( fabihudahum iqtadih ). 
Pada saat dan kondisi seperti ini,  kita sebagai bangsa Indonesia sangat membutuhkan keteladanan dari para tokoh dan pemimpin, dalam  memaknai hidup, bekerja keras, menghargai waktu, melestarikan aset negara dan kekayaan alam, hidup sederhana, perilaku yang bersih dan efektif agar bisa keluar dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Keteladanan jauh lebih berharga dari sekedar anjuran. Keteladanan sekali dari pemimpin akan lebih manjur dari ucapan seribu kali.
Keteladanan yang diberikan oleh nabi Ibrohim, Siti Hajar- istrinya, Ismail- putranya, dalam pengorbanan, kesabaran dan ketaatan sangat luar biasa, demikian pula keteladanan nabi Muhammad SAW dalam hal yang sama, sehingga nama beliau berdua diabadikan dalam bacaan tsyahhud dalam bentuk do’a shalawat dan keberkahan.

Nabi Ibrahim berqurban dengan dirinya, dimusuhi kaumnya karena menyerukan kebenaran tauhid, dilempar ke dalam api unggun besar oleh Namrudz, berpisah dengan istrinya Siti Hajar dan bayinya Ismail yang ditinggal di Makkah, sementara beliau kembali ke Hebron Falestina dengan siti Saroh. Berqurban untuk menyembelih putranya, Ismail berqurban dengan jiwanya. Pengorbanan demi pengorbanan dipersembahkan, ujian-demi ujian dilewati dan berhasil, sehingga beliau diangkat oleh Allah untuk menjadi pemimpin.

Dan ingatlah ketika Ibrohim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, maka ia menyempurnakannya ( melaksanakan ). Allah berfirman : Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai pemimpin bagi umat manusia.

Beliau menjadi pemimpin yang telah teruji, pemimpin yang memberikan keteladanan  dalam berqurban, mempersembahkan  jiwanyanya untuk Allah, mengisi hidupnya untuk memperjuangkan kemakmuran dan keadilan dalam naungan ridha Allah. Pemimpin yang demikianlah yang dirindukan bangsa ini, yang mudah-mudahan nanti akan dapat dilahirkan oleh pesta demokrasi 2004 ini.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Untuk meneladani pengorbanan nabi Ibrahim inilah maka ibadah qurban disyariatkan, hukumnya sunnah muakkadah bagi yang mempunyai kelapangan rizqi. Seekor kambing mencukupi untuk satu orang dan seekor sapi mencukupi untuk tuju orang.

Nabi Ibrahim telah berqurban dengan dirinya, keluarganya bahkan putranya. Nabi Ismail berqurban dengan nyawanya yang paling berharga. Nabi Muhammad beserta para shahabat berqurban dengan jiwa raga dan harta benda, dimusuhi, disiksa, diembargo ekonominya, diusir hingga berhijrah, diperangi terus menerus dan mereka tabah, sabar, berjuang dan berqurban hingga kita bisa menikmati manisnya hasil perjuangan dan pengorbanan mereka. Sementara saat ini kita hanya diminta untuk berqurban dengan seekor kambing, sebagian kecil dari harta kita, berqurban dengan nyawa seekor binatang, belum dengan nyawa kita, masihkah kita enggan melaksanakannya ?
Semangat berqurban inilah yang harus kita tumbuh suburkan dalam diri kita dan masyarakat. Semangat untuk memberi dan bukan menerima apalagi mengambil, inilah yang mesti kita budayakan. Semangat tangan diatas dan bukan tangan dibawah inilah yang harus kita terapkan. Semangat seperti inilah yang menjadi sifat utama orang-orang yang bertaqwa (alladzina yunfiquuna fissarraa’ waddhorroo’ ) mereka yang berfinfaq baik dalam keadaan lapang ataupun sempit. 
Kalau saat ini diindikasikan masih banyak kebocoran harta Negara, penggundulan dan penjarahan hutan, eksploitasi sumberdaya alam berlebihan sehingga memebahayakan keseimbangan dan kelestarian alam, potensiil mewariskan bencana bagi generasi mendatang, semua itu terjadi karena di tengah-tengah bangsa ini yang lebih dominan adalah semangat mengambil dan memanen, bukan semangat memberi dan menanam. Kita setiap hari menikmati berbagai buah dan hasil perkebunan lainnya, dari kebun dan pepohonan yang ditanam orang-orang terdahulu, pernahkan kita berfikir untuk bisa menanam agar kelak anak cucu kita yang memanen hasilnya ?. Kalau semanagat memberi dan menanam ini kita budayakan, insya Allah kita akan mampu meninggalkan berbagai investasi strategis jangka panjang kepada anak cucu dan bukan hutang yang semakin membebani, kita akan meninggalkan hutan-hutan dan berbagai perkebunan  yang kaya akan sumber alam nabati dan hewani serta menyuburkan, kita akan meninggalkan fasilitas pendidikan dan pelayanan kesejahteraan social yang berkwalitas, insya Allah kita masih mempunyai waktu bila kita bersungguh-sungguh.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita untuk mempunyai kepekaan , empati dan solideritas social. Hendaknya kita yang mempunyai kelapangan rizqi mau berbagai dengan kerabat, tetangga, fakir-miskin anak-anak yatim dan mereka yang dalam kebutuhan. Islam tidak membenarkan kita hidup egoistis, nafsi-nafsi, menutup pintu rapat-rapat dari sesama manusia yang membutuhkan bantuan. Islam menghendaki agar kita hidup bersaudara, saling menyayangi, saling membantu, saling menguatkan, yang kuat mengangkat yang lemah, yang besar membantu yang kecil, yang berkuasa melindudngi yang lemah. Itulah makna persaudaraan yang sebenarnya. Sungguh tidak ada persaudaraan dan kasih sayang kalau di rumah kita segala sesuatu tersedia, sementara tetangga tidak punya apa-apa, tidak ada persaudaraan antara orang yang menganiaya dan yang teraniaya. Tidak ada persaudaraan antara orang yang memegang perutnya kekenyangan dengan tetangganya yang menekan perutnya sambil  merintih kelaparan.

Bukan seorang mukmin yang tidur di malam hari kekenyangan, sementara tetangga disampingnya kelaparan, padahal ia mengetahuinya ( H.R. thobroni dan Bazzar ).

Solidaritas social ini harus kita miliki, untuk bisa membangun bangsa yang utuh dan kokoh. Saat ini ada 37 juta lebih diantara bangsa Indonesia yang dikategorikan miskin akut ( tidak tersedia makanan yang cukup, tempat tinggal yang layak, jaminan kesehatan dan biaya pendidikan ). Tingkat pendidikan kita masih bertengger pada rengking 160 diantara bangsa-bangsa dunia, kwalitas SDM kita ada pada level 110.  Sumber daya alam, kita jual mentahan nyaris tanpa sentuhan tehnologi dengan harga murah, industri setrategis masih dikuasai asing, tenaga-tenaga ahli masih kita impor, peralatan berat sampai senjata yang kita perlukan untuk melindungi kedaulatan negri ini, masih disuplai dari Negara maju, hingga komidi pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari semacam beras, gula, kedelai, gandum terpaksa masih kita import dari Negara lain, padahal Negara kita adalah Negara agraris. Ini semuanya mennjukkan bahwa kita masih harus bekerja keras, bahu membahu, bekerja lebih banyak lagi, membangun SDM yang berkwalitas.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Saat ini tiga juta lebih jama’ah haji yang datang dari berbagai pelosok negri, bermacam-macam bahasanya, berbeda-beda suku bangsanya, adat  istiadatnya, beraneka warna kulitnya, bertingkat-tingkat status sosialnya, semuanya berkumpul, berpadu saling berkenalan, tolong-menolong, saling melayani di Makkah dan Mina, menunaikan ibadah haji, tidak tampak perbedaan antara si kaya dan miskin, yang berpangkat dan rakyat. Mereka pergi meninggalkan sanak famili, kampung halaman yang dicintai, dan pekerjaannya sehari-hari, menempuh perjalanan jauh, penuh dengan resiko, dengan bekal yang banyak, semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah :

Ya Allah kami penuhi panggilan-Mu
Kami penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, Sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kerajaan adalah milik-Mu semata Tiada sekutu bagi-Mu.

Semua ini membuktikan bahwa Islam adalah agama penggerak. Tidak ada kekuatan seperti Islam yang mampu memobilisir dan menggerakkan sedemikian rupa. Islam agama pemersatu, tidak ada ikatan yang lebih kokoh dari aqidah Islam. 1,5 milyard ummat Islam di seluruh belahan bumi dihimpun dalam aqidah tauhid, dan disatukan dalam satu kiblat. Islam sekali-kali bukan penyebab desintegrasi bangsa, karena Islam memberikan kebebasan beragama bagi umat lain dan toleransi yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.

Umat Islam harus menyadari bahwa mereka mempunyai potensi SDM yang besar, SDA yang melimpah, negri-negri yang subur, kekayaan budaya yang beraneka ragam, yang masing-masing mempunyai potensi keunggulan.  Dan yang lebih penting lagi mereka memiliki kebenaran ajaran yang terjaga, serta sumber-sumber doktrin yang masih murni. Umat Islam termasuk  kita disini bila mampu menggali dan memanfaatkan potensi yang kita miliki, tidak mustahil akan mampu mewarnai dan ikut menentukan arah kemajuan peradaban umat manusia. 

Masa depan adalah milik kita umat Islam, Allah telah memilih kita sebagai khoiro ummah ( umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia ), menjajikan kepada kita untuk memagang kepemimpinan dunia, dengan syarat kita mampu benar-benar beriman dan berislam. Kebenaran Islam telah membuka banyak mata hati para cendekiawan Barat untuk memeluk Islam, menaklukkan hati nurani mereka, seperti yang dijanjikan Allah (liyudhhirohu aladdiini kullihi ) untuk dimenangkan atas agama semuanya. Secara konsep Islam telah menang dan unggul, sayangnya kejayaan Islam masih tersimpan dalam lembaran-lembaran kitab suci, belum tampak dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi semakin membuktikan kebenaran Islam, para cendekiawan berbondong-bondong memeluk Islam, sayangnya kita sebagai umat Islam, justru belum mampu memberikan gambaran Islam yang baik, kita malah sering menjadi visual Islam yang jelek. Islam mencintai ilmu pengetahuan, tetapi umatnya masih berkubang dalam kebodohan, Islam mengajarkan keteraturan, tetapi ummatnya paling berantakan, Islam sangat menghargai waktu, tetapi umatnya tidak mempunyai disiplin waktu, Islam menekankah pentingnya kebersihan, tetapi negri-negri muslim masih identik dengan kejorokan dan kekotoran. Islam mewajibkan penegakkan keadilan, tetapi banyak pemimpin negri muslim justru bersikap tiran. Kenyataan social inilah yang menjadi penghalang orang untuk simpati dan memeluk agama Islam. Al-Islamu mahjuubun bil muslimin ( keindahan ajaran Islam tertutup oleh kejelekan keadaan ummat Islam sendiri ).

Karena itu yang kita butuhkan saat ini adalah mendidik diri kita dan keluarga serta masyarakat untuk mengamalkan Islam. Seruan berislam tidak mengandung permusuhan kepada siapapun, karena itu berarti seruan kepada nilai-nilai luhur kemanusiaan yang menjadi misi semua rasul utusan Allah. Seruan berislam tidak membutuhkan cara-cara kekerasan, karena hal itu hanyaa akan membuat orang lari dari Islam ( jika engkau bersikap keras dan kasar niscaya mereka akan lari menjauhimu ). Cara-cara kekerasan hanya menjadi pilihan orang-orang yang berfikiran picik dan emosional, yang tidak melihat alternative lain. Mereka yang menganut logika kekuatan adalah orang-orang yang tidak mampu memanfaatkan kekuatan logika.

Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana mengejawentahkan ajaran Islam dalam sikap hidup kita sehari-hari, agar kita bisa menjadi contoh kebaikan bagi umat manusia ( litakunu syuhada’ alannas ), menjadi al-Qur’an yang hidup dan berjalan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Karena itu, marilah kita senantiasa hidup diatas Islam, hidup dengan Islam dan mati dalam keadaan Islam kepada Allah :

Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan saya termasuk orang yang bersegara dalam berserah diri ( al-An’am : 162 -163 ).

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Blogger Templates

728 X 90 Ad slot